BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
·
·
Manusia diciptakan oleh Allah SWT untuk tinggal di bumi sebagai makhluk Allah SWT yang paling sempurna. Tugas manusia di bumi sebagai seorang khalifah untuk melaksanakan segala yang di perintahkan oleh Allah dan menjauhi segala yang dilarang oleh Allah. Untuk itu, manusia juga harus beriman kepada Allah dan mengakui keesaan Allah seperti yang telah difirmankan oleh Allah SWT dalam Surat Al- Ikhlash (Makkiyyah) ayat 1 sampai 4:
1.
2.
3.
4. Maha Esa.
Dengan nama Allah yang maha Pengasih dan maha Penyayang.
1. Katakanlah (Muhammad), “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.
2. Allah tempat meminta segala sesuatu.
3. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.
4. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.”
Surat Al-Ikhlash diatas menunjukkan kepada kita tentang keesaan Allah, bahwa hanya kepada-Nya kita menyembah, dan hanya Allah pemilik kehidupan di dunia maupun di akhirat. Dari ayat suci diatas, dapat kita simpulkan bahwa sudah menjadi suatu kewajiban yang mutlak bagi umat islam untuk memegang teguh ajaran islam termasuk di dalamnya ketauhidan. Pemahaman kita mengenai ketauhidan dapat membuat kita terhindar dari perbuatan-perbuatan syirik yang tidak dapat di ampuni oleh Allah SWT. Dan pada akhirnya, pemahaman yang baik mengenai tauhid inilah yang akan membuat kita menjadi umat islam yang sempurna yaitu benar-benar menjadi khalifah Allah SWT di bumi maupun menjadi penghuni surga-Nya.
1.2 Perumusan Masalah
Sebagai umat muslim yang baik, kita seharusnya tahu secara mendalam tentang dasar dan hakikat yang paling penting dalam islam. Kepahaman kita tentang dasar dan hakikat dalam islam ini diharapkan dapat menuntun kita agar tidak salah dalam melangkah di dunia, sehingga dapat membawa kita menuju kehidupan yang bahagia di akhiratnantinya. Untuk itu kami akan membahas masalah-masalah dasar dalam islam meliputi:
· Pengertian Tauhid
· Pembagian Tauhid
· Pergertian Syirik
· Pembagian Syirik
· Bahaya Syirik bagi umat islam
Hal-hal diatas, akan kami uraikan seraca lebih lanjut dalam bab selanjutnya. Kami berharap setelah memahami dasar dan hakikat dalam islam secara baik, kita kemudian dapat menjadi lebih bijaksana dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Dengan mengimani dan mempercayai bahwa Allah SWT adalah satu-satunya tempat kembali bagi kita. Dan pada akhirnya, dapat menuntun kita semua untuk melangkah di jalan yang benar dan lurus, yaitu jalan Allah SWT.
BAB II
ISI
Pembahasan
2.1 Pengertian Ilmu Tauhid
Arti tauhid menurut bahasa adalah mensatukan atau membulatkan tekat untuk satu, atau ke arah satu. Sedangkan arti tauhid menurut istilah ilmu ‘aqoid (ilmu kalam) adalah beri’tikad di dalam hati dengan penuh keyakinan bahwa Allah itu satu dan hanya menyembah kepada Allah SWT. Sedangkan, arti tauhid menurut ‘Abduh (1976:34) tauhid adalah salah satu ilmu yang membahas tentang “Wujud Allah”, tentang sifat-sifat yang wajib tetap pada-Nya, sifat-sifat yang boleh disifatkan kepada-Nya, dan tentang sifat-sifat yang sama sekali wajib dilenyapkan dari pada-Nya; juga membahas tentang Rasul-rasul Allah, meyakinkan kerasulan mereka, apa yang boleh dihubungkan (nisbah) kepada diri mereka dan apa yang terlarang menghubungkannya dengan diri mereka.
Dengan mempelajari tauhid, umat muslim akan menjadi lebih kuat iman islamnya. Karena dalam ilmu tauhid kita diajarkan tentang ke-Esaan Allah SWT serta semua kebesaran Allah SWT seperti kebesaran-Nya dalam menciptakan manusia, bumi dan seisinya. Orang yang bertauhid juga akan melakukan segala perbuatannya hanya untuk Allah SWT. Selain itu, tauhid juga akan menjauhkan kita dari sifat-sifat syirik yang dosanya tidak akan diampuni oleh Allah SWT.
Dari penjelasan singkat mengenai ilmu tauhid diatas, secara ringkas dapat kita simpulkan bahwa ilmu tauhid (Arab :توحيد), adalah ilmu yang menerangkan dan menjelaskan tentang keesaan Allah SWT di dalam zat-Nya, sifat-sifat-Nya dan perbuatan-Nya
2.2 Pembagian Tauhid
Pembagian tauhid dalam islam dibagi menjadi 3 yaitu:
1. Tauhid Rububiyyah
Tauhid Rububiyyah adalah beriman bahwa hanya Allah SWT yang menciptakan dunia dan isinya. Dan hanya Allah SWT yang memiliki, merencanakan, menciptakan, mengatur, memelihara, memberi rezeki, memberikan manfaat, menolak mudharat serta menjaga seluruh Alam Semesta.
Sebagaimana terdapat dalam Al Quran surtah Az Zumar ayat 62 : "Allah Pencipta segala sesuatu dan Dia Maha pemelihara atas segala sesuatu".
Tauhid Rububiyyah menjelaskan bahwa manusia dan seisi alam semesta ini adalah ciptaan Allah SWT. Sehingga kita sebagai umat islam harus beriman kepada Allah SWT.
2. Tauhid Uluhiyyah/ Ibadah
Tauhid Uluhiyyah/ Ibadah adalah beriman bahwa hanya Allah semata yang berhak disembah, tidak ada sekutu bagiNya.
Seperti yang terangkan dalam surah Ali Imran ayat 18:
“Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia; (demikian pula) para malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana”.
Beriman terhadap uluhiyah Allah merupakan konsekuensi dari keimanan terhadap rububiyyah-Nya. Karena ketika kita sudah meyakini bahwa Allah SWT adalah satu-satunya Dzat yang menciptakan alam semesta maka wajib bagi kita untuk mengesakan Allah dalam segala macam ibadah yang kita lakukan. Seperti salat, doa, nadzar, menyembelih, tawakkal, taubat, harap, cinta, takut dan berbagai macam ibadah lainnya. Dan dalam setiap ibadah kita tersebut, kita harus memaksudkan tujuan dari kesemua ibadah tersebut hanya kepada Allah semata.
3. Tauhid Asma Wa Sifat
Tauhid Asma Wa Sifat adalah beriman bahwa Allah memiliki nama-nama baik dan sifat-sifat baik yang sesuai dengan keagungan-Nya. Umat Islam mengenal 99 Asma'ul Husna yang merupakan nama baik Allah dan 20 sifat Allah.
Mengamalkan ketiga tauhid diatas merupakan perintah dari Allah SWT dan sekaligus menjauhi syirik merupakan konsekuensi dari pemahaman kita terhadap tauhid itu sendiri. Seorang muslim meyakini bahwa tauhid adalah dasar islam yang paling agung dan hakikat islam yang paling besar serta merupakan salah satu syarat diterimanya amal perbuatan disamping harus sesuai dengan tuntutan Rasulullah saw.
2.3 Pengertian Syirik
Syirik (aslinya: syirkun) menurut arti bahasa adalah persekutuan; bagian. Sedangkan, menurut istilah agama adalah: “Mempersekutukan Allah dengan yang lain-Nya”. Dalam kontek ini, syirik juga dapat berarti menyekutukan Allah SWT dalam beribadah dengan salah satu diantara makhluk-Nya. Syirik tidak hanya menyembah berhala, menyembah selain-Nya namun riya’ juga merupakan syirik. Syirik merupakan dosa yang paling besar dan sekaligus amal yang paling jelek di mata Allah SWT. seperti yang difirmankan oleh Allah SWT dalam ayat Al-qur’an dibawah ini:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia dikehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An Nisa’: 48)
Menyekutukan Allah Adalah Amal Paling Jelek
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu,dia berkata: “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai Rasulullah, apakah dosa yang paling besar di sisi Allah?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda: “Engkau menjadikan sesuatu atau beranggapan bahwa ada sesuatu yang sebanding dengan Allah, sedangkan Dialah yang menciptakan kamu.” Aku kemudian berkata: “Sesungguhnya dosa yang demikian memang besar. Kemudian apa lagi?” Rasulullah bersabda: “Kemudian engkau membunuh anakmu karena khawatir fakir lantaran dia makan bersamamu.” Aku bertanya lagi: “Kemudian apa lagi?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda: “Engkau berzina dengan istri tetanggamu.
2.4 Pembagian Syirik
1. Syirik yang Terkait dengan Kekhususan Allah Ta’ala
a. Syirik di dalam Rububiyyah
Yaitu jika seseorang meyakini bahwa ada selain Allah yang bisa menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan atau mematikan, dan yang lainnya dari sifat-sifat Ar Rububiyyah. Orang-orang seperti ini keadaannya lebih sesat dan lebih jelek daripada orang-orang kafir terdahulu.
Syirik dalam Rububiyyah adalah mereka yang meyakini kalau Allah satu-satunya Pencipta alam semesta namun mereka masih tetap berdoa, meminta pada berhala-berhala. Sebagaimana Allah kisahkan tentang mereka :
Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka : “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab : “Allah.” Maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar). (QS. Al Ankabut : 61)
Dan Firman Allah SWT :
Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka : “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab : “Allah.” Katakanlah : “Segala puji bagi Allah.” Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahuinya. (QS. Luqman : 25)
Ayat-ayat ini semua menunjukkan kalau orang-orang musyrik terdahulu mengakui Allah-lah satu-satunya pencipta yang menciptakan langit dan bumi, yang menghidupkan dan mematikan, yang menurunkan hujan dan seterusnya. Akan tetapi mereka masih memberikan peribadatan kepada yang lainnya. Inilah yang dimaksud syirik dalam rububiyah.
b. Syirik di dalam Uluhiyyah
Yaitu kalau seseorang menyakini bahwa ada tuhan selain Allah yang berhak untuk disembah (berhak mendapatkan sifat-sifat ubudiyyah). Yang mana Allah Subhanahuwa Ta’ala dalam berbagai tempat dalam Kitab-Nya menyeru kepada hamba-Nya agar tidak menyembah atau beribadah kecuali hanya kepada-Nya saja. Firman Allah Subhanahuwa Ta’ala :
“Wahai manusia sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelummu agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kamu mengetahuinya.” (QS. Al Baqarah : 21-22)
Perintah Allah dalam ayat ini agar semua manusia beribadah kepada-Nya dan bentuk ibadah yang diperintahkan antara lain syahadat, shalat, zakat, haji, sujud, ruku’, thawaf, doa, tawakal, khauf (takut), raja’ (berharap), raghbah (menginginkan sesuatu), rahbah (menghindarkan dari sesuatu), khusu’, khasyah, isti’adzah (berlindung), istighatsah (meratap), penyembelihan, nadzar, sabar dan lain lain dari berbagai macam ibadah yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
c. Syirik di dalam Asma’ wa Sifat
Yaitu kalau seseorang mensifatkan sebagian makhluk Allah dengan sebagian sifat-sifat Allah yang khusus bagi-Nya. Contohnya, menyakini bahwa ada makhluk Allah yang mengetahui perkara-perkara ghaib.
Firman Allah SWT :
(Dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang ghaib. Maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu.? (QS. Al Jin : 26)
Dari firman Allah diatas, dapat kita simpulkan bahwa kita sebagai umat islam tidak boleh menyamakan sifat-sifat khusus yang di miliki Allah SWT dengan makhluknya. Dan tidak ada makhluk Allah di dunia ini yang memiliki sifat-sifat khusus Allah SWT.
2. Syirik Menurut Kadarnya
a. Syirik Akbar (besar)
Syirik Akbar adalah syirik dalam keyakinan yang mengakibatkan pelakunya ke luar dari agama Islam, serta kekal selama-lamanya dalam neraka bila tidak taubat darinya. Hakikat syirik akbar adalah “memalingkan salah satu jenis ibadah kepada selain Allah.” Seperti memohon kepada selain Allah, takut kepada selain Allah, dll.
Dibawah ini merupakan macam-macam Syirik Akbar (besar):
· Syirik dalam berdoa
Adalah merendahkan diri dan meminta kepada selain Allah, disamping tetap meminta kepada Allah SWT. Dan mengenai hal ini Allah SWT telah menjelaskan dalam firman-Nya:
“Dan orang-orang yang kamu seru selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kalit ari. Jika kamu meminta kepada mereka, mereka tiada mendengar seruanmu dan kalau mereka mendengar mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan dihari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu. Dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui.” (Faathir: 13-14)
· Syirik dalam niat, kehendak dan maksud
Adalah ketika kita melakukan ibadah atau beramal semata-mata ingin dilihat orang atau untuk kepentingan dunia semata. Dan tidak karena Allah SWT. Dan mengenai hal ini Allah SWT telah menjelaskan dalam firman-Nya:
“Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepadanya balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak akan memperoleh di akhirat kecuali neraka, dan lenyaplah di untuk akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. Hud: 15-16).
Syirik jenis ini banyak menimpa kaum munafiqin yang telah biasa beramal karena riya’. Dan Allah SWT telah menjelaskan bahwa orang-orang yang melakukan ibadah bukan untuk-Nya maka bagi mereka adalah neraka.
· Syirik dalam keta’atan
Yaitu menjadikan sesuatu sebagai pembuat syariat selain Allah Subhanahu wa Ta’ala atau menjadikan sesuatu sebagai sekutu bagi Allah dalam menjalankan syariat dan ridho atas hukum tersebut. Ketaatan kita hanya kepada makhluk, wali atau segala sesuatu yang pada intinya merupakan suatu bentuk penghianatan kepada Allah SWT.
Seperti: mentaati mereka dalam menghalalkan apa yang diharamkan Allah atau mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah. Mengenai hal ini Allah berfirman:
“Mereka menjadikan orang-orang alim, dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah.” (at-Taubah:31)
· Syirik dalam kecintaan (mahabbah)
Adalah mengambil makhluk sebagai tandingan bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Menyetarakan kecintaan makhluk dengan Allah.
Mengenai hal ini Allah berfirman: “Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana rnereka mencintai Allah, adapun orang-orang yang beriman sangat cintanya kepada Allah.” (al-Baqarah:165).
Yang dimaksud dengan mahabbah (kecintaan) dalam ayat ini adalah mahabbatul ubudiyah (cinta yang mengandung unsur ibadah), yaitu cinta yang dibarengi dengan ketundukan dan kepatuhan mutlak serta mengutamakan yang dicintai daripada yang lainnya. Mahabbah seperti ini adalah hak istimewa Allah. Hanya Allah saja yang berhak dicintai seperti itu, tidak boleh diperlakukan dan disetarakan dengan Nya sesuatu apapun.
b. Syirik Ashghar (kecil)
Yaitu riya’, hal ini tidak mengeluarkan pelakunya dari agama islam, akan tetapi pelakunya wajib untuk bertaubat. Syirik Ashghar ini dibagi menjadi dua yaitu syirik yang berupa ucapan dan syirik yang berupa amalan. Syirik yang berupa ucapan contohnya adalah bersumpah dengan selain nama Allah SWT sedangkan contoh syirik yang berupa tindakan adalah memakai jimat untuk menolak hal-hal buruk. Namun apabila dia meyakini bahwa benda-benda tersebut yang menolak hal-hal yang buruk tersebut maka, ini sudah dikatakan sebagai syirik Akbar.
c. Syirik Khafi (tersembunyi)
Yaitu syirik yang bersumber dari amalan hati. Contohnya: riya’, sumi’ah, dan lain-lain. Hal ini tidak mengeluarkan pelakunya dari agama islam sebagaimana kita ketahui, namun pelakunya wajib bertaubat.
Yang perlu kita ketahui bahwa hakikat riya’ adalah melakukan segala perbuatan karena makhluk bukan karena Allah SWT. Contonhnya: mengerjakan sholat dan berpuasa karena ingin dipuji oleh orang lain.
3. Syirik Menurut Letak Terjadinya
a. Syirik I’tiqodi
Syirik yang berupa keyakinan, misalnya meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menciptakan kita dan memberi rizki pada kita namun di sisi lain juga percaya bahwa dukun bisa mengubah takdir yang digariskan kepada kita. Hal ini termasuk Syirik Akbar yang mengeluarkan pelakunya dari agama islam, kita berlindung kepada Allah dari hal ini.
b. Syirik Amali
Yaitu setiap amalan fisik yang dinilai oleh syari’at islam sebagai sebuah kesyirikan, seperti menyembelih untuk selain Allah, dan bernazar untuk selain Allah dan lainnya.
c. Syirik Lafzhi
Yaitu setiap lafazh yang dihukumi oleh syari’at islam sebagai sebuah kesyirikan, seperti bersumpah dengan selain nama Allah, seperti perkataan sebagian orang, “Tidak ada bagiku kecuali Allah dan engkau”, dan “Aku bertawakal kepadamu”, “Kalau bukan karena Allah dan si itqon maka akan begini dan begitu”, dan lafazh-lafazh lainnya yang mengandung unsur kesyirikan.
2.5 Bahaya Syirik Bagi Umat Islam
ü Memadamkan cahaya fitrah yang bersih.
Manusia dilahirkan berada dalam fitrah tauhid yang suci, maka orang tua, lingkungan, dan hawa nafsulah yang memadamkan fitrah tersebut dari jalan tauhid yang lurus.
ü Mematikan kesucian jiwa.
Jiwa yang bertauhid takkan tenggelam dalam lumpur hawa nafsu, karena hawa nafsu bersifat menurunkan jiwa manusia kebumi sementara ruh mengangkat ke langit dan melihat ke alam malakut. Maka jiwa yang melakukan syirik akan jatuh ke jurang kerendahan dan kehinaan.
ü Menghilangkan sifat ‘izzah (kemuliaan).
Karena membuat jiwa menjadi tunduk kepada sesuatu selain Allah SWT yang rendah dan hina. Kemuliaan itu hanya milik Allah, Rasul-Nya dan orang beriman. Seorang yang berbuat syirik takkan pernah memiliki kemuliaan dan takkan pernah merasakannya karena ia telah bersandar kepada sesuatu yang rendah dan hina.
ü Menggugurkan semua amal baik.
Dosa yang paling besar dan paling dahsyat bahayanya adalah syirik, karena syirik langsung menyentuh nilai-nilai tauhid yang paling mendasar dan aspek ketuhanan yang paling penting dalam agama Islam, yaitu pengakuan syahadah akan ke-Maha Esa-an Allah SWT dari segala sekutu dan tandingan.
ü Kekal dan abadi di naar.
Maka sebagai hukumannya pun paling berat yaitu kekal di naar, dan tidak mendapatkan kesempatan pengampunan sama sekali dari Allah SWT, padahal Ia adalah yang Maha Penyayang (karena pelanggaran ini adalah kesalahan yang memang tidak dapat tidak boleh dimaafkan).
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pada akhirnya, pemahaman kita akan ketauhidan ini akan membantu kita untuk menjalani hidup di dunia dan memperoleh kebahagiaan di akhirat. Selain itu, pemahaman kita tentang ketauhidan ini dapat membuat kita untuk menjauhi sifat-sifat syirik.
Ilmu Tauhid adalah: ilmu yang menerangkan dan menjelaskan tentang keesaan Allah SWT di dalam zat-Nya, sifat-sifat-Nya dan perbuatan-Nya.
Ilmu Tauhid dibagi menjadi tiga yaitu Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah, dan Tauhid Asma Wa Sifat. Ketiga tauhid ini merupakan dasar dan hakikat paling penting bagi orang muslim. Apabila kita menjalankan ketiga tauhid tersebut, maka Allah SWT telah menjamin untuk memberikan kehidupan yang bahagia bagi umatnya yaitu di surga.
Syirik artinya menyekutukan Allah SWT dalam beribadah dengan salah satu diantara makhluk-Nya. Syirik tidak hanya menyembah berhala, menyembah selain-Nya namun riya’ juga merupakan syirik. Syirik merupakan dosa yang paling besar dan sekaligus amal yang paling jelek di mata Allah SWT.
Sebagai umat islam kita harus menyakini keesaan Allah SWT seperti yang difirmankan Allah SWT dalam surat Al-Ikhlash ayat 1 sampai 4. Karena itu, pemahaman yang baik mengenai ketauhidan dapat membuat iman kita menjadi lebih baik dan membuat kita tidak melakukan perbuatan-perbuatan syirik dalam kehidupan kita di dunia serta membawa kita menjadi menghuni sunga-Nya.
DAFTAR PUSTAKA
‘Abduh, Syekh Muhammad. 1976. Risalah Tauhid. Alih bahasa: Firdaus. Cetakan VII. Jakarta: Bulan Bintang.
Aziz, Abdul. 1982. Kebersihan Iman dan Tauhid. Surabaya: PT Bina Ilmu Surabaya.
Manan, Imron A. 1982. Pelbagai Masalah Tauhid Populer. Cetakan I. Surabaya: PT Bina Ilmu Surabaya.
Taimiyah, Syaikhul Islam Ibnu. 1982. Al’Ubudiyyah (Hakeka Penghambaan Manusia kepada Allah). Alih bahasa: Mu’amal Hamidy. Cetakan I. Serabaya: PT Bina Ilmu Surabaya.
Mahalli, Ahmad Mudjab. 2003. Hadis-Hadis Muttafaq ‘Alaih Bagian Ibadat. Jakarta: Kencana.
Jawas, Yazid bin Abdul Qadir. 2004. Kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. Bogor: Pustaka At-Taqwa.
Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Quran dan Lajnah Pentashih Mushaf Al-Quran. 2005. Al-Quran dan Terjemahnya. Bandung: Diponegoro.
Mahalli, Ahmad Mudjab. Hadis-Hadis Muttafaq ‘Alaih Bagian Ibadat. Jakarta:Kencana. 2003.